I’m proud of him…

Di suatu pagi yang cerah dengan udara yang sejuk di sebuah pedesaan, seorang ibu sedang bercengkerama dengan ketujuh anakya, kegembiraan dan kebahagiaan serta kebersamaan terbangun dalam keluarga itu, selang beberapa saat kemudian sang anak pertama melontarkan kalimat-kalimat bijak kepada ibunya.
One bright morning at the village with an air fresh, a woman with her seven children had some talks. They looked happy. After awhile, the elder son talked to his mother.

“Ibu, aku memang tidak terlalu pintar dibanding teman-temanku disekolah, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat BODOH untukku.

Ibu, aku memang tidak terlalu cantik / tampan dibanding anak dari teman-taman ibu, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat JELEK untukku.

Ibu, aku memang tidak penurut seperti anak-anak yang lain, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat NAKAL untukku.

Ibu, aku memang sering khilaf melanggar aturan karena ketidakberdayaanku, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat DURHAKA untukku.

Ibu, sampai hari aku belum mampu membalas segala jasamu dan belum mampu membahagiakan sebagaimana keinginanmu, tapi tolong jangan sampai keluarkan kalimat GAK TAHU DIRI untukku.

Ibu, kalau sampai hari ini aku masih sering lupa mendoakanmu karena kesibukanku, tolong jangan hentikan air mata do’amu untukku dan jangan pula sepatah kata laknatpun keluar dari bibirmu.”
“Mother, I’m not too good in school as my friends, but please don’t tell me STUPID.
I’m not too handsome, but please don’t tell me UGLY.
I’m not as obedient as others, but please don’t tell me NAUGHTY.
I often broke the rules, but please don’t tell me PERFIDIOUS.
I’m not able yet to pay your love and make you happy, but please don’t tell me I am an UNGRATEFUL CHILD.
Mother, till now I often forget to pray for you because I’m too busy, but please don’t stop pray for me.”

 

Ibu itupun kemudian meneteskan air matanya, apa arti air mata ibu ini ?
She cried.

 

Alkisah beberapa tahun kemudian, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
Years later, a young man from Surabaya took a plane for Jakarta. Beside him, there’s  an old woman, and they had some talks.

”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda.
“Mam, why are you going to Jakarta?”, asked him.

 

“Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu.
“Oh, I’m just transit in Jakarta, and then I’ll fly to Singapore for my second son,” she said.

 

”Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
“Wow, you have a great son,” he said.

 

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak dan adik-adik nya?”
This young man was curious, so he asked her again. “If I’m not wrong, your son in Singapore is the second one. How about his elder brother or sister?”

”Oh, ya tentu.” si Ibu bercerita. ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Semarang.”
“Oh, sure. The third is a doctor in Malang, the fourth is in plantation in Lampung, the fifth is an architect in Jakarta, the sixth is a bank head in Purwokerto, and the seventh is a lecture in Semarang.”

Pemuda tadi diam. Hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.
He silent and thought that this woman could taught her children well. Her second to seventh child are success.

 

”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?”
“What about your first child?”

 

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu.
She said, “He is a farmer in Godean Jogja and his farma is not to big.”

 

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya bu. Mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani.”
“I’m sorry, mam. Maybe you are a little bit disappoint to him.” said the young man.

Dengan tersenyum ibu itu menjawab: ”Ooo… tidak, tidak begitu nak. Justru saya SANGAT-SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
She smiled and said, “Oh no, in fact I’m so proud of him. He is the one who pay all his brother and sisters’ school fee from his farm.”

 

Source: http://www.lienaaifen.com/motivasi/kesuksesan-si-sulung/

Advertisements

4 thoughts on “I’m proud of him…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s