What’s the price?

Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat diperlukan, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain?”
A young man came to Zun-Nun and said, “Master, I do not understand what kind of man you are. You wear clothes as you want, very humble. Good clothes are good for this time, not only for appearance, but for other goals also.

Sang guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”
The master smiled. Then he took a ring from his finger and said, “Young man, I will answer your question, but please do me a favor first. Take this ring to the market across the street, and sell it for a gold coin.”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu. “Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”
When this young man saw the dirty ring, he doubted. “A gold coin? I’m not sure if I could sell it for that price.”

“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”
“Just try, young man. Maybe you will success.

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.”
Finally, this young man did as what the master asked him to do. He went to a draper, greengrocers, butchers and fishmonger, and others to sell that ring, but no one want it as the price. They offered a silver coin for it but he did not sell it. He backed to his master and told him what happen, “Master, no one brave enough to buy this ring more than a silver coin.”



Zun-Nun sambil tetap tersenyum arif berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”
Zun-Nun still smiled, said: “Now, go to a gold shops behind this street. Do not tell the price, just listen how they value this ring.”

Pemuda itu bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”
He went to the shop and backed again with smiled. He said, “Master, the traders in market did not know its value. The gold trader gave a thousand gold coins for this ring.”

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya.”
Zun-Nun said, “That’s my answer to your question before, young man. A person can not be judged by his clothes.”

~ Do not judge! Know people really well. ~

 

Source: http://hariyangbegituindah.blogspot.com/2010/11/kearifan-emas.html

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s