Mother, please come home…

Ini kisah tentang Zhang Da dari negeri Cina yang mendapat penghargaan tinggi dari pemerintah pada 27 Januari 2006 karena telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Dari 9 orang yang menerima penghargaan, dia satu-satunya anak kecil.
This is a story of Zhang Da from China who got award from the government on January 27, 2006 because he did “a great thing”. He was only a boy among nine whom got that award.

“Perbuatan Luar Biasa” yang dilakukannya adalah memberikan perhatian dan mengabdi kepada ayahnya, kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan simpati.
“The Great Thing” was he cared and served his father, worked hard and never gave up, attitude and words that brought people into sympathy.

Sejak berumur 10 tahun, dia ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama sang ayah yang sakit keras dan miskin. Karena sakit, ayahnya tidak bisa berjalan apalagi bekerja.
Since 10 years old, his mother left him with his father. She couldn’t stand to live with a poor man and very ill. He couldn’t walked, even worked.

Kondisi inilah yang memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggung-jawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, mencari makan untuk ayahnya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah. Tapi, dia tidak menyerah.
This situation made this little boy took a big responsibilities. He had to school, found some food for his father and himself, also he had to find out how to bought expensive medicine for his father. But, he never gave up.

Hidup harus terus berjalan. Dia harus berjalan melewati hutan kecil untuk bersekolah. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba memakan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.
Life’s goes on. He kept went to school, and for that he must walked through a small forest. On his way to school or home, he ate leaves, beans and fruits that he found. Sometimes he found some kind of mushroom or grass and he tried to ate them. From that, he knew which one that could be ate and which one not.
Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk ayahnya.
After home from school, he joined few masons to broke big stones and got payed. The money he used for buying rice and some medicine for his father.

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Ia menggendong papanya ke WC, menyeka dan sekali-sekali memandikan ayahnya, membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan ayahnya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggung-jawab dan kasih. Ini sudah menjadi kegiatannya sehari-hari.
It’s been 5 years he lived this life, but he never got sick. He carried his father to toilet, bathed him, bought rice and cooked pulp, and all things that his father need. All he did with love and responsibility, everyday.

Selain itu, Zhang Da menyuntik sendiri ayahnya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuatnya berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Dia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah dirasanya mampu, ia nekat untuk menyuntik ayahnya sendiri. Sekarang dia sudah terampil melakukannya.
Besides, Zhang Da injected his father by himself. Expensive medicine and far from hospital made him tried to find a way out. He bought a used book and learned about medicine from it. Also, he learned how nurses inject their patients. When he thought he’s ready, he injected his father. Now, he had that skill.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah? Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”
When every eyes on him, the host asked: “Zhang Da, just tell us what do you want? What school do you want? How much money you need? Anything. There are big people here, and hundreds people are watching you from TV. They could help you!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”
He answered nothing. The host asked him, “Say it, they could help you.”

 

Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab, “Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu ayah, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”
He silent for awhile, then said: “I want my mother back. Mom, please come home. I could take care of dad. I could find some food. Mom, please come home!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan ayahnya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya? Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.
Everyone was moved and came to tears. They did not expected those words from this little boy. Why he did not ask medicine for his father, or some saving to help him out for his future, or a small house near hospital, or a green card from government so people could help him whenever he need help?

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. “Aku mau Mama kembali,” sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.
Maybe what he asked was what he need the most. “I want my mother back,” was something he kept since she left him with his father.

Source: http://forumkristen.com/index.php?PHPSESSID=d4tvtedmviohhpa4p9aso6raj5&topic=8730.msg470142#msg470142

Advertisements

3 thoughts on “Mother, please come home…

  1. What would all of us do devoid of the magnificent strategies you talk about on this blog? Who comes with the fortitude to deal with important topics just for common readers like me? I actually and my friends are very happy to have your blog among the types we frequently visit. We hope you know how much we appreciate your effort! Best wishes from us all.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s