care ‘them’

Xiao Xiang adalah seorang murid SD kelas III yang bersemangat, lincah dan berbadan kekar, di sekolah dasar kecil di sebuah desa.
Xiao Xiang was a third grade student in a small elementary school at a village. He was so spirited, agile even he has a stocky body. 

Karena dia sangat cekatan, selalu dengan mudah dapat menangkap kadal di pohon, kupu kupu dan jenis serangga lainnya, juga dapat berbagi kesenangan bermain dengan teman-teman.
Oleh sebab itu, meskipun Xiao Xiang tidak pernah mengerjakan PR dan merupakan seorang murid yang bermasalah, namun teman-teman sekolahnya tetap saja sangat senang terhadapnya.
He never did his homework and a trouble student also, but these did not matter for his friend. They still love him because he always agile and easy to catch lizard on tree, butterflies and other insects. 
Kala itu dimusim panas, saya menjabat sebagai wali kelas di kelas III SD tersebut. Saya yang adalah seorang periang, bersemangat dan penuh perhatian, dengan cepat sudah dapat berbaur dengan murid seluruh kelas.
Para murid sangat akrab denganku, pada saat istirahat mereka senang berada di sisiku, membantu aku memeriksa kesalahan PR murid, sambil menceritakan kehidupan mereka di rumah, dan  serba-serbi kegiatan mereka bersama orang tuanya.
One summer time, I was chosen to be a homeroom teacher in third grade. I had spirit, jovial, and loved to care so I did not need much time to mingle with the students. We closed each other. They loved to be with me in the rest time to helped me checked the homework, while told me their story.
Waktu itu saya sering mengadakan sebuah permain dengan mereka yang disebut “ini tulisan siapa”. Permainan tersebut baru berlangsung beberapa hari, mereka menemukan bahwa saya sudah bisa mengidentifikasi tanpa kesalahan semua tulisan murid satu kelas yang berjumlah 16 orang. Mereka mencoba dengan segala cara untuk dapat  mengalahkanku, bahkan dengan sengaja mengubah gaya tulisan tangan mereka. Namun meskipun mereka telah menggunakan cara-cara yang beraneka-ragam, dengan penuh harapan berpikir kali ini pasti bisa mengalahkanku, aku telah menguasai karakter tulisan mereka, oleh karena itu aku selalu dapat menebak dengan tepat. Walaupun tantangan  para murid gagal, namun dalam hati mereka sangat gembira, karena mereka merasa aku benar-benar memahami mereka.
At the time, I often made a game with them. It’s called “whose writing is this?”. It’s been few days, and they found me had already knew the 16 students’ hand writing. They tried to change their writing style to beat me. But because I knew their writing character, they failed. Though, they’re so happy because they felt that I truly knew them.
Ajar-mengajar antara guru dan murid berlangsung dalam suasana yang begitu menyenangkan, dilalui dengan pemahaman dari hati ke hati. Namun ada satu hal yang selalu menjadi ganjaran dihatiku, yakni Xiao Xiang pada dasarnya bagaikan tamu di kelas, dia sama sekali tidak pernah membuat PR, saat istirahat, juga tidak pernah datang berbicara denganku. Kemudian aku mencari tahu, ternyata Xiao Xiang hanya mempunyai orang tua tunggal, seorang anak yang bukan dibesarkan oleh orang tua, sekarang ia tinggal bersama kakek dan neneknya di desa, dia datang ke sekolah dengan menumpang kendaraan umum yang frekwensi rutenya hanya dua kali sehari. Karena kedua orang tuanya melahirkan dia pada usia remaja, saat itu mereka masih berupa dua anak remaja yang belum pernah terjun ke masyarakat, belum berpengalaman namun sudah menjadi orang tua, sehingga akhirnya memicu pada perceraian. Ayahnya telah lama pergi bekerja di luar kota.
The teaching was gun. But there’s one thing that always came to my thought: Xiao Xiang. He just like a stranger in the class. He never made his homework. At the rest time he never came to have a talk with me. Then I knew, he only had a single parent and raised by his grandparents. He got to school with public transportation which only twice in a day. His parents had him when they’re still teenagers. They’re divorced, and his father moved to town for job.
Aku mulai memikirkan bagaimana caranya untuk membuka hati Xiao Xiang, dan teringat olehku sebuah kalimat pendidikan psikologi: kebalikan dari sayang bukan benci, namun adalah ketidakpedulian, terabaikan. Aku berjanji akan membuat Xiao Xiang tahu bahwa aku sangat memperhatikannya. Saat bertemu dia, aku menyapanya: “Xiao Xiang, hari ini kau sudah gunting rambut ya ?” dan aku mengelus-elus kepala Xiao Xiang, Xiao Xiang terbengong sejenak, mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berlari pergi. “Xiao Xiang, kau pakai sepatu baru ya ?” Dengan penuh perhatian aku menepuk-nepuk pundaknya, dia tersenyum, kemudian berlari pergi dengan bangga. “Xiao Xiang, tenagamu sangat besar!” Aku memuji dan menyampaikan padanya, dengan percaya diri dia berlari menuju lapangan olahraga.
Aku dengan inisiatif berkomunikasi dengan Xiao Xiang, dan setiap hari memberitahu padanya suatu hal baru yang  aku temukan pada dirinya. Sangat heran sekali, pada saat istirahat, dia sudah tidak segera berlari keluar ruang kelas, tapi dia bersama dengan murid lainnya akan mendekat kesampingku dan tersenyum melihat aku berbincang-bincang dengan teman-temannya, kemudian barulah dengan cepat berlari menuju lapangan. Kadang kala Xiao Xiang sengaja mendekatiku, berharap aku memperhatikannya. Tapi dia tetap seperti semula,  tidak pernah membuat PR.
I started to think how should I closed to Xiao Xiang. Then I remembered a sentence from a psychology education said: “The contrary of love is not hate, but not care, neglected.” I promised myself that I’ll let him knew how I cared him. I greeted when I saw him: “Xiao Xiang, are you cut your hair?” and I rubbing his head. He wondered why I did it, but then knocked his head and went away. 
“Xiao Xiang, is that your new shoes?” I patted his shoulder, he smiled, then went away proudly.
“Xiao Xiang, what a great power you have!” with confidence he ran to the playing field.
Everyday I communicate to him with a new thing that I found to him. I was so surprised when one rest time, he with the other students came to me and smiled when he saw me talked to others students. After that, he went to the playing field. Sometimes, he came closer to get my attention, but still he never made his homework.
Suatu hari, aku sengaja tidak mempedulikannya, untuk melihat apa tanggapannya. Benar juga, Xiao Xiang terlihat sedikit tidak tenang. Aku merasa sudah tiba saatnya, waktu pelajaran kedua dimulai, aku dengan nada serius menyuruhnya naik ke podium dan menegurnya: “kamu tahu tidak? Tulisan semua murid di kelas sudah aku kenali, kecuali kamu. Aku tidak mengenali tulisanmu karena kamu tidak pernah membuat PR, bagaimana aku sebagai guru bisa mengenalinya?” Mata Xiao Xiang langsung merah, setelah selesai bicara aku menyuruhnya kembali ke tempat duduk, dan dalam satu mata pelajaran, aku sama sekali tidak memandangnya.
One day, deliberately not pay attention to him. True, he looked uneasy. I guessed it’s the time to the second lesson. I told him to the front class and said: “Do you know, I’ve already know all these students’ hand writing, except you? It is because you never do your homework.” After told him that, I let him back to his chair. At that time, I gave them lesson without saw him even once.
Keesokan harinya, saat istirahat, Xiao Xiang datang kesampingku dan melihatku mengoreksi PR. Aku menyapanya: “apakah kamu mau mencoba? bawalah buku kamu kemari”. Xiao Xiang kembali ketempat duduk mengambil sebuah buku dan berikan padaku . Aku berkata: “asalkan kamu menulisnya separoh halaman sudah cukup”. Aku mencoret bagian bawah halaman tersebut, dengan sangat gembira dia mengganggukkan kepala, buku itu ditaruh kembali ke bangku, lalu dia pergi keluar bermain. Keesokan harinya Xiao Xiang akhirnya membawa PR yang sudah dia kerjakan. Aku sangat gembira membuka melihat  hasilnya, tulisanya semua berdempetan,  benar benar sangat jelek. Aku segera membuat sebuah tanda V besar (pertanda bagus sekali) diatas tulisan, kemudian melingkari 2-3 huruf diantaranya. Lalu berkata padanya: “tiga huruf ini sangat bagus, kamu coba hapus semua tulisan yang ada disekitarnya, lihat apakah kamu dapat menulis berikutnya seindah huruf tersebut?” Xiao Xiang dengan sangat gembira kembali ke tempat duduk dan menulis berikutnya.
Next day, at the rest time he came to me and saw how I corrected the homework. I said, “Wanna try? Get your book here.” He took his book and gave it to me. I said, “It’s enough even you just write it a half.” He looked happy. He took his book back and went away. The next day, he brought his homework. I was so happy. 
Demikianlah, Xiao Xiang secara bertahap mulai masuk ke jalur belajar yang benar.
That’s how Xiao Xiang through the process to the right learning.

~ everyone has their own character and background. treat them well, as you want people to treat you. do not underestimated them, do not neglected. in fact, they do need more attention. take chance to become one who take apart on their process to be someone. ~

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s