Faith ≠ Doubt

Pemandangan di desa itu sangat gersang. Sungai-sungai hampir tidak sanggup lagi mengalirkan airnya yang nyaris kering akibat hujan tidak pernah turun dan penduduk yang setiap hari mengambil air dari dalamnya. Sawah-sawah yang tadinya menghijau sekarang berubah menjadi tanah yang pecah kecoklatan tanpa sebatang padi yang tertanam di atasnya.
There’s an arid village. The rivers almost dry because there’s no rain for months, while people always took its water everyday. The verdant field turned to cracked soil without any paddy on it.

Tidak ada lagi tawa ceria anak-anak yang bermain hujan. Ibu-ibu menghemat bahan makanan yang ada karena musim kemarau yang berkepanjangan membuat tidak satu pun tanaman yang bisa tumbuh dan berbuah.
There’re no more kids laughing while played in the rain. Mothers saving foodstuff because prolonged dry season.

Hari itu jemaat berkumpul di gereja untuk berdoa meminta hujan kepada Tuhan. Hamba-hamba Tuhan yang ada memberikan semangat kepada jemaat untuk beriman dan berharap kepada Allah yang sanggup melakukan mujizat.
Tidak ketinggalan anak-anak pun ikut terlibat dalam perkumpulan untuk meminta hujan kepada Tuhan.
One time, the congregation, included children were gathering in church to pray for the rain. Priests motivated people to have faith and hoped to God who can do anything. 

Sejak pagi mereka berdoa dan berpuasa namun masih ada kegentaran dalam hati, apakah mungkin Tuhan bisa melakukannya?
They prayed and fasted since morning, but still there’s doubt in their heart.

Selama beberapa bulan terakhir tidak pernah terlihat mendung di desa itu, namun ada pemandangan yang sangat menarik. Di tengah jemaat yang berkumpul untuk berdoa, terlihat seorang anak laki-laki dengan sebuah payung di tangannya. Ketika pendetanya bertanya untuk apa ia membawa payung, dengan yakin anak kecil itu menjawab, “Biar nanti kalau pulang tidak kehujanan.”
Among those people there, there’s a boy with an umbrella on his hand. When the priest asked him why he brought his umbrella, confidently he said: “It’s for me to not get wet when I went home.”
Tidak terasa jam menunjukkan pukul 17.00 sore ketika semua orang yang berdoa itu bernaung di dalam gereja karena derasnya hujan yang turun. Namun anak kecil itu berlari pulang sambil mengembangkan payungnya.
It’s 5 o’clock in the afternoon when everyone sheltered in the church for the rain, but not the little boy. He used his umbrella to get home.

Source: http://nlwithil.blogspot.com/2011/04/iman-anak-kecil.html

Ilustration video:

~ Sometimes, we pray but there’s no faith on us. Doubt makes us keep question about what we pray for. On the other hand, it means that we question God’s power. ~

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s